ABSTRACT problem of petroleum energy source. Keyword: petroleum,

ABSTRACT

Energy sources are instrumental in the economic and industrial development
of a country. The
greater the production of an item, the more energy needs will be used. This
can be seen from the energy consumption of industrial countries that are increasing
every year. As
China experienced an economic increase of 14.2% and accompanied by increasing
demand for petroleum as one of its industrial energy sources. This
makes the Chinese government must set a strategy so that their petroleum needs
are not increasing and can be replaced with other energy sources. Some
of the strategies used are rationing and stockpiling, this strategy is done
within the domestic sphere. Not
only that, the Chinese government also develops strategies that are applied
internationally. In
this paper, the author uses descriptive method to explain what strategies used
by the Chinese government in handling the problem of petroleum energy source.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Keyword:
petroleum, resources, industrialization, development

 

PENDAHULUAN

            Negara-negara
maju yang memiliki banyak industri pasti memiliki tingkat konsumsi akan sumber
daya energi yang lebih besar daripada negara-negara non-industri. Semakin banyak
barang yang dihasilkan, maka akan semakin besar pula energi yang dibutuhkan.
Hal ini juga terjadi pada industri-industri di China yang membutuhkan banyak
suplai minyak bumi sebagai sumber energi. Memang minyak bumi merupakan sumber
energi yang tidak terbarukan, namun pemerintah China sudah terlanjur
menggantungkan kebutuhan industrinya dengan minyak bumi.

            Seperti
yang tertulis dalam beberapa artikel dan juga website mengenai negara pengimpor
minyak bumi terbesar, China menduduki posisi teratas. Dari artikel terbaru, untuk
setiap hari dalam tahun 2016 China mengkonsumsi 11,5 juta barel minyak yang mana
mengalami peningkatan lebih dari setengah juta barel dari tahun 2015.1
Hal ini juga disampaikan oleh China
Petroleum and Chemical Industry Association (CPCIA), produksi minyak dalam
negeri sekitar 4 juta barel per hari, sehingga tidak memungkinkan bagi China
untuk memenuhi kebutuhan minyaknya hanya dengan produksi domestik saja.2
Hal inilah yang mendorong China melakukan kegiatan impor minyak bumi dan juga
menyusun beberapa strategi baru untuk memenuhi kebutuhan industrinya. Penyusunan
strategi yang dilakukan oleh Pemerintah China tentu berdasarkan banyak
pertimbangan, salah satunya adalah untuk mempertahankan tingkat pendapatan
ekonomi China yang saat ini semakin unggul dan maju. Jika pemerintah tidak
memperhatikan masalah sumber energi minyak, maka bisa jadi kemungkinan terburuk
seperti menurunnya tingkat pendapatan domestik akan terjadi.

 

METODE

            Metode
penelitian yang penulis gunakan adalah metode penelitian deskriptif-kualitatif.
Metode ini merupakan penggambaran secara kualitatif fakta, data, atau objek
material yang berupa ungkapan bahasa atau wacana melalui interpretasi yang
tepat dan sistematis.3
Dengan metode deskriptif-kualitatis, penulis akan menggambarkan
strategi-strategi apa saja yang dilakukan oleh Pemerintah China dalam menangani
masalah sumber energi minyak bumi. Sehingga pembaca akan dengan mudah memahami
tulisan ini dan akan memberikan informasi-informasi baru terkait strategi
Pemerintah China terhadap kebutuhan minyak bumi domestik.

 

HASIL DAN
PEMBAHASAN

Kebutuhan energi bagi negara-negara industri sangat diperlukan guna
mempermudah proses produksi. Sumber energi sangat berperan dalam kemajuan
ekonomi dan perindustrian sebuah negara.4
Semakin besar produksi suatu barang, maka akan semakin banyak pula kebutuhan
energi yang digunakan. Hal ini bisa dilihat dari konsumsi energi bagi negara
industri yang semakin meningkat tiap tahunnya. Sumber energi yang dimaksud
adalah minyak bumi, batu bara, nuklir, maupun air. Dalam memenuhi kebutuhan
energinya, negara tidak hanya menggunakan energi yang dimilikinya, negara juga
akan melakukan kegiatan ekspor-impor guna memperbanyak sumber energi. Sumber
energi yang dimiliki negara pasti terbatas, terlebih lagi energi minyak bumi
yang tidak semua negara berpotensi menghasilkan minyak bumi tersebut.

            Menurut beberapa artikel yang
penulis temukan, banyak dari mereka yang menyatakan bahwa peringkat pertama
negara pengimpor minyak diduduki oleh China yang menggeser posisi Amerika
Serikat.5
Perekonomian China dari tahun 2004 hingga 2007 mengalami peningkatan sebesar
14,2%.6
Seiring dengan perekonomian yang meningkat, kebutuhan China akan energi minyak
bumi juga mengalami fluktuasi. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah
impor minyak bumi pada tahun 2004 sebesar 50% untuk memenuhi kebutuhannya akan
minyak bumi.7
China mengimpor minyak bumi dari beberapa kawasan, yang paling mendominasi
adalah kawasan Timur Tengah, disusul oleh Afrika, Asia-Pasifik, Rusia,
Kazakhstan, Eropa dan Amerika Serikat.8
Namun dari kawasan-kawasan tersebut, China juga mengalami kendala dalam proses
impor minyak bumi. Terlebih lagi kondisi geopolitik di Timur Tengah yang tidak
stabil, didukung dengan dominasi Amerika Serikat yang membatasi China untuk
bisa bekerjasama dengan negara-negara di kawasan tersebut Jalur distribusi
minyak yang di impor China harus melewati Selat Hormuz dan Selat Malaka yang
sangat rawan pembajakan, hal ini menjadi pertimbangan lagi bagi pemerintah
China.9
Dari kawasan Afrika juga demikian, kondisi negara-negara Afrika sedang dilanda
konflik yang menyebabkan terhambatya proses distribusi minyak bumi.10

            Dari kebutuhan minyak bumi China
yang semakin meningkat, pemerintah mempuyai beberapa strategi untuk menjaga
stabilitas sumber energi, terutama minyak bumi. Strategi pertama yang
dikemukakan oleh pemerintah adalah strategi pembangunan hijau yang lebih ramah
lingkungan dan juga hemat biaya.11
Hal yang menjadi pertimbangan adalah isu lingkungan yang diharapkan tidak
menjadi masalah serius. Namun bukan berarti peduli terhadap lingkungan mampu
mengurangi prioritas pertumbuhan ekonomi yang pesat.12
Sehingga cara yang harus ditempuh pemerintah adalah dengan memanfaatkan energi
terbarukan yang menggantikan sumber energi minyak bumi sebagai sumber energi
tidak terbarukan. China melakukan investasi besar dalam inovasi teknologi ramah
lingkungan, seperti angin, tenaga surya dan hidrogen.13

            Strategi yang lain adalah rationing dan stockpiling. Strategi rationing
adalah pengurangan konsumsi energi yang 
dilakukan untuk memperpanjang waktu penyelesaian masalah apabila ada
kendala dalam suplai energi. Karena hampir sebagian besar industri di China
menggunakan minyak bumi sebagai sumber energi, pemerintah melakukan strategi rationing yaitu menggantikan posisi
minyak bumi dengan clean coal, petroleum
coke dan gas alam yang mampu digunakan sebagai pembangkit listrik di
pabrik, penyulingan minyak bumi dan heavy
industry.14 Strategi stockpiling juga dilakukan oleh pemerintah China dalam menangani
kerugian yang akan terjadi apabila stok minyak bumi susah didapatkan dari
negara-negara penghasil minyak bumi. Strategi stockpiling merupakan penumpukan cadangan minyak bumi yang
digunakan pada saat darurat saja, sehingga strategi ini dikhususkan bagi
permasalahan jangka pendek yang mungkin terjadi pada sebuah industri.15

            Selain strategi-strategi yang sudah
dijelaskan diatas, pemerintah China juga membuat strategi pengurangan
ketergantungan suplai minyak bumi dari negara asing. Strategi ini dilakukan
dengan cara mengolah sumber energi minyak bumi domestiknya, dengan catatan
pemerintah harus meningkatkan self-sufficiency
agar bisa memastikan stok minyak bumi domestik akan selalu meningkat dan
tersedia.16
Sebelum melakukan kegiatan impor minyak bumi, China pernah memproduksi minyak
bumi sendiri. Namun ladang-ladang minyak tersebut saat ini mengalami penurunan
produksi karena sudah mencapai titik puncak produksinya. Hal ini yang membuat
pemerintah China harus menyusun strategi-strategi baru agar kebutuhan mereka
akan minyak bumi tetap terpenuhi.

            Dari strategi-strategi yang
dilakukan dalam lingkup domestik, pemerintah China juga membuat strategi dalam
lingkup internasional. Strategi ini digunakan untuk memperkuat jaminan suplai
minyak bumi asing yang masuk ke China. Terdapat 2 cara yang dilakukan
pemerintah China yaitu diversifikasi dan peningkatan interdependensi. China
melakukan diversifikasi dengan harapan tidak terlalu menggantungkan konsumsinya
akan minyak bumi pada negara-negara tertentu. Misalnya China mengimpor minyak
di kawasan Afrika, namun pemerintah melakukan diversifikasi di negara penghasil
minyak bumi besar, seperti Sudan, Angola dan Kongo.17
Di kawasan Amerika Latin juga dilakukan diversifikasi, yaitu dengan cara
mengimpor minyak bumi dari Brazil dan Venezuela.18
Cara kedua yaitu peningkatan interdependensi yang dilakukan pemerintah China
dengan melakukan investasi jangka panjang (long-term
investment) dengan negara-negara yang memiliki tingkat GDP yang cukup
tinggi atau bisa juga dengan memberikan bantuan pembangunan (development assistance). Pemerintah
melakukan peningkatan interdependensi dengan harapan hubungan diplomatik kedua
negara tidak hanya bergantung pada sektor minyak bumi saja. China melakukan long-term investment dengan negara
berpendapatan tinggi seperti Rusia, Kazakhstan dan negara-negara di kawasan
Timur Tengah. Sedangkan untuk bantuan pembangunan, China melakukan kerjasamanya
dengan negara-negara yang membutuhkan bantuan di sektor pembangunan
infrastruktur. Negara yang menjadi tujuan adalah Brazil dan Venezuela, yang
mana bantuan pembangunan diberikan dengan mekanisme Loan for Oil.19
Jadi negara peminjam harus membayar pinjamannya dengan minyak bumi.20
Strategi dalam lingkup internasional ini akan sangat membantu kebutuhan minyak
bumi China. Karena dengan menanamkan investasi jangka panjang di bidang ekonomi
yang lain, negara penyuplai minyak akan bergantung juga dengan China namun di
sektor yang berbeda. Hal ini merupakan pertimbangan pemerintah China untuk
melakukan interdependensi yang erat antara negara-negara penyuplai minyak bumi.

            Dari beberapa strategi yang direncanakan
oleh Pemerintah China, strategi yang menurut penulis efektif adalah strategi
pembangunan hijau yang dikombinasikan dengan strategi rationing. Dengan memaksimalkan energi terbarukan, kebutuhan akan
minyak bumi bisa diminimalisir. Sehingga ketergantungan Pemerintah China dengan
negara-negara penyuplai minyak bumi bisa berkurang. Strategi pengembangan hijau
bisa dikembangkan oleh Pemerintah China dan juga bisa diterapkan di negara
industri yang lainnya, sehingga sumber daya tak terbarukan (seperti minyak
bumi) tidak selalu dieksploitasi oleh negara-negara industri. Selain itu dengan
strategi rationing , penggunaan
minyak bumi yang digantikan oleh sumber energi lainnya seperti clean coal, petroleum coke dan gas alam juga menjadi salah satu alternatif
untuk menjaga kondisi lingkungan yang diharapkan.

            Dengan menerapkan strategi-strategi
tersebut diatas, Pemerintah China harus bisa mengatur pola kerjasama yang baik
tanpa menimbulkan masalah baru. Jika strategi tersebut sukses dilakukan, status
China tidak akan menjadi negara pengimpor terbesar di tahun  2015 yang mana akan menggeser posisi Amerika
Serikat sebagai negara pengimpor minyak terbesar sebelumnya. Rendahnya produksi
minyak domestik China membuat pemerintah harus melakukan impor untuk memenuhi
kebutuhan industrinya.

 

KESIMPULAN

            Kebutuhan China akan sumber
energi minyak bumi diperkirakan akan meningkat setiap tahunnya. Hal ini membuat
Pemerintah China harus menyusun strategi dengan baik dan tepat untuk
mempertahankan ekonominya. Selain harus menghemat penggunaan minyak bumi,
Pemerintah China juga menerapkan beberapa strategi yang harus dilakukan. Strategi-strategi
yang dibuat tidak hanya dalam cakupan domestik, melainkan juga dalam cakupan
internasional. Strategi domestik yang dicanangkan pemerintah China adalah
pembangunan hijau: yang lebih ramah lingkungan dan juga hemat biaya, rationing: yang menggantikan posisi minyak bumi dengan clean coal, petroleum coke dan gas alam, stockpiling: melakukan
penumpukan cadangan minyak bumi yang digunakan pada saat darurat saja. Selain itu
strategi internasional yang harus dilakukan adalah diversifikasi (KBBI:
penganekaan usaha untuk menghindari ketergantunggan pada ketunggalan kegiatan,
produk, jasa atau investasi) atau melakukan impor minyak bumi yang tidak
didapatkan dari 1 negara saja. Strategi selanjutnya adalah interdependensi
(ketergantungan) yang dibangun dari kerjasama diplomatik antara China dengan
negara penghasil minyak namun dikemas dengan motif lain, seperti melakukan
investasi jangka panjang dan juga bantuan pembangunan. Beberapa strategi
tersebut harus dilakukan oleh Pemerintah China demi mempertahankan pendapatan
ekonomi yang didapatkan dari hasil industri. Apabila China mampu mengontrol
konsumsinya akan minyak bumi dan juga mampu berinovasi tentang sumber daya
energinya dengan menerapkan strategi tersebut, sudah pasti akan banyak negara
yang akan menerapkan strategi serupa demi menjaga stabilitas ekonomi
masing-masing negara.

1 U.S Department of Commerce.
“China – Oil and Gas”. International Trade
Administration, July 25, 2017, https://www.export.gov/article?id=China-Oil-and-Gas
(diakses pada 18 Desember 2017)

2 Ibid.

3 Wahyu Wibowo, Cara Cerdas Menulis Artikel Ilmiah (Jakarta:
Penerbit Buku Kompas, 2011) , hlm. 43

4 Budi Winarno, Isu-isu Global Kontemporer (Yogyakarta:
CAPS, 2011)  hlm. 5

5 Detik Finance. “Ini Negara Pengimpor Minyak Terbesar di Dunia”.
Detik.com, 2013, https://finance.detik.com/energi/2328337/ini-negara-pengimpor-minyak-terbesar-di-dunia
(diakses pada 18 Desember 2017)

6 The World Bank Group. “GDP Growth (annual %)”. World Bank, https://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.MKTP.KD.ZG?page=3
(diakses pada 17 Desember 2017)

7 International Energy
Agency. “Oil and Gas Security Emergency
Response of IEA Countries”. IEA, 2012, http://www.iea.org/publications/freepublications/publication/China_2012.pdf
(diakses pada 17 Desember 2017)

8 Hongyi Lai Harry,  China’s
Oil Diplomacy: Is It a Global Security Threat? (England: Roudledge Group,
2007)  hlm. 522

9 Ibid.

10 Ibid.

11 Martin Jacques, When China Rules the World: The Rise of
Middle Kingdom and The End of The Western World. (Cambridge: Penguin Books,
2009) hlm. 192

12 Ibid.

13 Ibid.

14 Suisheng Zhao, China’s Search for Energy Security: Domestic
Sources and International Implications. (New York: Routledge, 2013) hlm. 8

15 Suisheng Zhao, hlm. 13

16 Mason Willrich, Energy and World Politics (New York:
Three Free Press, 1978) hlm. 88

17
International Energy Agency, “Oil and Gas
Security People’s Republic of China”. IEA, 2012, http://www.iea.org/publications/freepublications/publication/China_2012.pdf
(diakses pada 17 Desember 2017)

18 Ibid.

19 John Lyons,  “Brazil
Turns to China to help Finance Oil Projects”. The Wall Street Journal, May
18, 2009, https://www.wsj.com/news/articles/SB124259318084927919
(diakses pada 17 Desember 2017)

20 Ibid.